Suara-suara di Cermin
Dulu suaraku besar. Karenanya aku sering ditegur oleh orang-orang di sekitarku bahwa suaraku besar. Dulu teriakanku yang paling kencang dan yang paling besar di antara teman-temanku. Lalu perlahan suaraku makin kecil, dan makin gak jelas. Aku mengeluarkan suara seperti bergumam, mengucapkan kata-kata yang tak dipahami oleh orang-orang disekitarku. Suaraku teredam di balik rasa takutku akan teguran atas kesalahan di masa lalu.
Terkadang aku berpikir, suaraku yang terlalu pelan dan tak jelas atau orang-orang di sekitarku yang sudah pekak. Mungkin bicaraku memang tak jelas dan telingaku lah yang pekak. Orang lain tak salah. Akulah yang salah.
Suaraku ketika di rumah jernih, bergema di antara sudut ruangan yang berdebu, menggetarkan telinga kucing tersayangku. Di rumah aku bernyanyi, aku berteriak, aku menyanyikan laguku sendiri, menciptakan lirik-lirik yang takkan dipahami oleh orang lain melainkan aku, dan aku bisa mendengarkan suaraku sejelas teguran mereka di masa lalu.
Tidak, aku bukan penyanyi. Namun, aku suka membuat laguku sendiri. Walaupun iramanya jauh dari kata senada dan lirik-liriknya tak masuk akal. Biarlah sumbang asal jelas. Di rumah, tak ada yang menegur suaraku keras. Di rumah, tak ada yang bilang aku berbicara tak jelas. Aku melantur sesuka hati, ingin mengoyak gendang telinga dan pita suaraku sendiri. Membuka mulut lebar-lebar sampai dinding mulutku terbelah seperti "The Slitted Mouth Woman".
Teman-temanku suaranya sedang. Tak besar, tak pula kecil. Jelas dan tajam. Berdesis dan menyemburkan racun transparan memasuki relung-relung jantungku. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, apa yang membuat mereka begitu. Kemarin-kemarin mereka tidak begitu. Suara mereka terdengar lembut di telingaku. Atau sebenarnya selama ini aku pekak. Telingaku tersumbat toleransi. Namun, aku tak sanggup untuk meyakini bahwa mereka berubah. Akulah yang pasti berubah. Mungkin aku salah bertanya, mungkin aku yang salah mengambil langkah, mungkin aku yang salah dalam berkata.
Mungkin sebaiknya aku diam saja. Memastikan untuk selalu berkaca sehingga aku bisa melihat apa yang salah.
Komentar
Posting Komentar