Sensitifitas dan Effort
Kami mulai berteman sejak awal 2022. Pertemanan kami baru berumur 2 tahun. Mungkin aku terlalu sensitif. Dari dulu aku memang overthinking. Jadi, mungkin hal-hal seperti ini wajar saja. Mungkin kami pada akhirnya bisa seperti aku dan 2 teman SMPku. Berada di tahap pertemanan yang dewasa.
Kami dulu juga bertengkar kok. Sering. Namun, dengan 3 orang ini, belum pernah pertengkaran besar. Saling mendiamkan pun belum pernah. Tapi, aku pernah kok mendiamkan mereka, namun mereka nggak sadar. Sia-sia betul usahaku. Mereka tak paham, mereka tak mengerti. Mereka nggak mengerti aku secara keseluruhan. Namun, mereka sekedar tahu aku seperti apa. Mereka nggak tahu apa yang kupikirkan walaupun mereka menebak sok tahu dan aku yang nggak berusaha untuk membenarkan karena pada dasarnya, aku payah dalam berkomunikasi.
Aku payah dalam menyuarakan pikiran, menemukan kata-kata yang tepat, cenderung menjelaskan secara belibet. Skill komunikasiku di bawah standar. Tapi, aku berusaha latihan kok. Aku berusaha untuk berkembang, untuk menjadi lebih baik. Dan sekarang aku mempertanyakan, di umur segini skill komunikasi ku sebenarnya jadi lebih baik apa lebih buruk?
Susah untuk menyesuaikan langkah dengan mereka. Terkadang aku yang terlalu cepat, terkadang aku yang terlalu lambat atau bahkan tertinggal jauh di belakang. Tak tahu apa-apa yang sedang mereka bicarakan. Sebetulnya sedih kalau diingat-ingat ketika aku bertanya mereka sedang membicarakan apa dan tak satupun menjawab dengan serius. Namun, aku berusaha untuk melupakannya, berusaha untuk menebak-nebak mereka sedang membicarakan apa. Seringnya tebakanku salah dan mereka bakal tertawa. Mereka nggak tahu, sebenarnya sakit sih ketika mereka mentertawai ku begitu.
Dan akhirnya... Akhirnya aku berpikir aku hanya terlalu sesitif. Bersahabat memang begitu. Ah, memangnya kami bersahabat?
Aku mulai tak yakin.
Bangsat.
Sudah berapa lama? 2 tahun. Dan kenapa nampaknya susah untuk meminta toleransi pada mereka? Apa aku playing victim? Aku terlalu menoleransi mereka karena baru kali ini berada dalam lingkaran pertemanan yang asik begini. Apa iya begitu?
Aku tak paham.
Aku benci membuang sampah terus, benci mencuci gelas terus, benci membeli gas terus, benci menyapu setiap helai rambut panjang mereka, benci memasak nasi terus, benci menyapu terus, benci mengepel terus...
Amarahku surut ketika mereka meminta bantuanku. Itu artinya mereka lupa kami habis berdebat yang membuat hatiku terluka. Itu artinya aku masih penting dalam hidup mereka.
Jika orang-orang menaruh effort pada pasangan yang salah, maka aku menaruh effort pada teman yang salah. Dan, betul, betul amarahku sudah surut. Karena salah satu dari mereka meminta bantuanku. Dan aku hanyalah cewek aneh yang terlalu sensitif dan overthinking.
Komentar
Posting Komentar