24 jam

Senin, 28 Maret 2022. Sudah lebih dari 24 jam aku tinggal di kos ini. 24 jam itu berarti banyak hal. 24 jam tanpa orang tua. Situasi kali ini beda dari saat ibu pulang kampung. Tidak ada ayah di rumah. Dan bukan ibu yang meninggalkanku, melainkan aku. 


Aku rindu rumah. 


Siang tadi, saat badanku panas, aku ingat ibu. Hal-hal yang kulakukan siang itu mengingatkanku pada ibu. Mengingatkanku bahwa aku tidak seharusnya tinggal di kos sementara ibu di rumah. Bahwa aku tidak seharusnya kuliah kalau hal itu memisahkanku dari ibu. 


Aku tidak ingin jadi dewasa. 


Aku ingin jadi remaja selamanya. Mengulang lingkaran kehidupan selama 18 tahun. 


Menjadi abadi bersama ibu. 


Aku salah dan ibu benar. Aku tak sanggup hidup tanpa ibu. 


Aku rindu rumah. Aku rindu debu-debunya, retak dan sudut-sudut kotornya, segala cacatnya, dan seluruh isinya. Kuharap aku hidup abadi dalam duniaku sendiri dimana aku bermain dengan anjing dan kucingku sementara ibu membersihkan halaman dan ayah pergi bekerja. 


Apalah artinya menjadi dewasa? Aku tak sanggup membayangkan orang tuaku meninggalkanku. Menyakitkan. 


Dan aku pun bertanya-tanya, apa sikap emosional ini dikarenakan aku sakit dan tanda-tanda menstruasi? 


Kuharap waktu berjalan lebih cepat sampai aku bertemu ibu lagi. Ibu, jangan menangis. Biarlah aku yang menangis. Karena aku telah durhaka dengan meninggalkan ibu. 


24 jam, rasanya seperti 24 juta tahun telah berlalu. Waktu menjadi egois dan menyakitkan. Cuaca membuat nerakanya sendiri. Tuhan, aku meminta kepadamu, cepatkanlah hari dimana aku bisa bersama ibu lagi untuk selamanya tiba. 


Me. 

Komentar

Postingan Populer